Beralaskan Tanah Berdinding Gedek Bambu, Keluarga Asal Kraton Butuh Perhatian Pemkab Pasuruan
PASURUAN, antaratoday.com – Menjelang perayaan HUT Kabupaten Pasuruan yang ke-1097 dengan mengusung tema “Pasuruan Bangkit, Bersama Kita Bisa” terselip kisah keluarga asal Dusun Kalimas Selatan Desa Bendungan, Kecamatan Kraton, Kabupaten Pasuruan.
Ditengah perayaan berbagai kegiatan Pemkab Pasuruan dalam menyambut HUT tahun ini dengan berbagai kegiatan. Keluarga Sulastri justru sebaliknya dengan keterbatasan yang ada hingga saat ini.
Diketahui, Perempuan kelahiran 1981 itu kini harus menjalani pemulihan setelah. Menjalani operasi akibat ususnya melintir.
Kondisi tersebut membuat Sulastri tidak dapat bekerja selama sekitar satu bulan. Padahal, selama ini dirinya menjadi satu-satunya anggota keluarga yang memiliki pekerjaan rutin untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Saat ditemui awak media dirumahnya yang beralaskan tanah dan berdinding gedek bambu pada Rabu (16/9/2026), dirinya menyampaikan bahwa operasi dilakukan pada Senin sekitar dua pekan sebelumnya. Sehari sebelum ditemui, tepatnya Selasa (15/9/2026), dirinya juga baru menjalani kontrol.
“Operasi karena usus melintir, dipotong terus disambung pada hari Senin dua minggu yang lalu. Selasa, 15 September kemarin kontrol,” paparnya.
Sebelum sakit, Sulastri bekerja di sebuah pabrik triplek di Desa Gerongan, Kecamatan Kraton. Ia bekerja dengan sistem borongan dan biasanya mendapatkan penghasilan sekitar Rp80 ribu hingga Rp90 ribu per hari.
Namun, sejak sakit dan menjalani operasi, aktivitas tersebut harus dihentikan sementara. Sulastri kini lebih banyak beristirahat di rumah untuk menjalani proses pemulihan.
Di sisi lain, kondisi ekonomi keluarga juga cukup berat. Suaminya, Solehudin (40), tidak memiliki pekerjaan tetap. Solehudin sebelumnya pernah mengalami kecelakaan hingga harus menjalani operasi pada bagian otak.
Akibat kondisi fisiknya, Solehudin kini tidak bisa melakukan pekerjaan yang membutuhkan tenaga berat. Penglihatannya juga disebut sudah kurang jelas.
Untuk memenuhi kebutuhan keluarga, Solehudin sesekali berkeliling menemui teman maupun tetangga untuk mencari pekerjaan yang masih bisa dilakukannya. Ia juga terkadang menerima pekerjaan jasa pijat.
Pasangan tersebut memiliki empat anak. Salah satu anak saat ini dirawat oleh saudara, sementara satu anak lainnya sudah putus sekolah. Dua anak lainnya masih bersekolah, masing-masing duduk di kelas 3 SMP dan kelas 4 SD.
“Adapun tiga anak lainnya sama saya,” ujar Sulastri.
Keluarga ini tinggal di sebuah rumah kecil di kawasan Kalimas Selatan. Sebagian bangunan rumah menggunakan material kayu dan bahan seadanya.
Di sekitar rumah juga terlihat sejumlah barang dan perkakas yang sebagian merupakan pemberian orang lain maupun barang rongsokan.
“Itu ada perkakas yang dikasih orang, rongsokan,” ungkap Sulastri.
Dalam kondisi seperti sekarang, Sulastri berharap dapat segera pulih sehingga bisa kembali bekerja. Sebab, pekerjaan di pabrik triplek selama ini menjadi sumber penghasilan utama keluarganya.
Untuk sementara waktu, keluarga tersebut harus bertahan dengan kondisi yang serba terbatas, sembari menunggu kondisi Sulastri membaik dan Solehudin mendapatkan pekerjaan yang sesuai dengan kemampuan fisiknya. (por/dim/red)





























