Ratusan Santri Manba’ul Hikam Sidoarjo Diduga Keracunan MBG

SIDOARJO, antaratoday.com – Suasana Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin, Sidoarjo, mendadak geger pada Selasa (1/9/2026). Ratusan santri dilaporkan mengalami gangguan kesehatan setelah menyantap makanan program Makan Bergizi Gratis (MBG).

Jumlah santri yang mendapat penanganan medis terus berubah seiring proses pendataan. Data yang dihimpun pada Selasa malam menyebut sedikitnya 293 santri telah dibawa ke sejumlah fasilitas kesehatan di Kabupaten Sidoarjo. Bahkan, laporan yang terbit lebih larut menyebut jumlah tersebut kembali meningkat menjadi 367 pasien.

Kondisi itu membuat sejumlah rumah sakit di Sidoarjo harus menangani gelombang pasien dari pesantren tersebut. Para santri dilaporkan mengalami sejumlah keluhan seperti mual, pusing, muntah hingga gangguan pencernaan setelah mengonsumsi menu MBG.

Di tengah situasi tersebut, Bupati Sidoarjo, Subandi langsung turun ke lapangan. Pada Selasa malam, Subandi mendatangi Pondok Pesantren Manba’ul Hikam untuk melihat kondisi para santri sekaligus memastikan proses evakuasi dan penanganan medis berjalan.

Bupati datang bersama Komandan Kodim (Dandim) 0816/Sidoarjo Letkol Inf Abraham Prihadi, Kapolresta Sidoarjo Kombes Pol Christian Tobing, serta Kepala Dinas Komunikasi dan Informatika (Kominfo) Sidoarjo Eri Sudewo.

Dari pesantren, rombongan kemudian bergerak ke sejumlah rumah sakit yang menjadi lokasi perawatan, di antaranya RS Delta Siti Hajar, RS Delta Surya, dan RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo.

Kunjungan tersebut dilakukan untuk memastikan para santri mendapatkan penanganan medis secara cepat sekaligus mengecek langsung kondisi mereka.

Di RSUD R.T. Notopuro, Subandi menegaskan kabar mengenai adanya santri yang meninggal dunia tidak benar.

“Tidak ada yang meninggal. Semua pasien sudah tertangani dengan baik. Kalau nanti ada berita yang menyebut ada yang meninggal, itu tidak benar. Kami sudah memastikan dan mengecek langsung kondisi para santri di rumah sakit,” tegas Subandi.

Pernyataan tersebut sekaligus meredam informasi simpang siur yang sempat beredar di tengah kepadatan penanganan pasien. Pemerintah daerah memastikan seluruh santri yang menjalani perawatan mendapat observasi dan pelayanan medis.

Berdasarkan data sementara yang disampaikan Pemkab Sidoarjo, sekitar 200 santri mendapatkan penanganan di RSUD R.T. Notopuro. Sementara itu, sekitar 58 santri menjalani perawatan di RS Islam Siti Hajar dan 15 lainnya dilaporkan berada di RS Delta Surya.

Subandi menyebut sebagian pasien yang kondisinya telah membaik berpeluang segera dipulangkan.

“Yang di rumah sakit ini kurang lebih 200-an. Cuma sudah membaik semuanya. Sebagian nanti bisa pulang karena kondisinya sudah baik,” ujarnya.

Peristiwa ini menjadi sorotan karena gangguan kesehatan dialami para santri setelah mengonsumsi makanan program MBG.

Sejumlah laporan di lapangan menyebut makanan dibagikan untuk makan siang dan para santri mulai mengalami keluhan beberapa jam setelah menyantapnya. Namun, penyebab pasti gangguan kesehatan tersebut belum dapat disimpulkan hanya berdasarkan urutan waktu konsumsi makanan.

Karena itu, dugaan bahwa makanan MBG menjadi sumber keracunan masih harus dibuktikan melalui pemeriksaan medis, pemeriksaan sampel makanan, serta penelusuran rantai pengolahan dan distribusinya.

Badan Gizi Nasional (BGN) juga disebut telah mengamankan sampel makanan untuk menjalani pemeriksaan laboratorium. Penelusuran diarahkan antara lain pada alur distribusi makanan dari Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) yang memasok makanan ke pesantren.

Bahkan, BGN pada Rabu (2/9/2026) dilaporkan mengambil langkah penghentian sementara operasional SPPG Yayasan Indonesia Makmur Mandiri di Kalitengah, Tanggulangin, sembari proses investigasi berjalan.

Langkah tersebut menunjukkan bahwa persoalan tidak berhenti pada penanganan korban. Keamanan pangan dalam pelaksanaan program MBG juga menjadi bagian penting yang harus ditelusuri, mulai dari bahan baku, proses memasak, waktu pengemasan, penyimpanan, distribusi hingga makanan diterima dan dikonsumsi para santri.

Subandi memastikan Pemkab Sidoarjo tidak akan membiarkan kejadian tersebut berlalu tanpa evaluasi.

Ia meminta jajaran pemerintah daerah berkoordinasi dengan seluruh rumah sakit yang menangani para santri agar pelayanan medis diberikan secara maksimal.

“Kami berkoordinasi dengan semua rumah sakit untuk melakukan penanganan dan memberikan pelayanan yang semaksimal mungkin,” katanya.

Selain itu, Pemkab Sidoarjo akan memanggil Dinas Kesehatan serta Dinas Penanaman Modal dan Pelayanan Terpadu Satu Pintu untuk melakukan pemeriksaan menyeluruh.

Pemeriksaan tidak hanya menyangkut kondisi makanan, tetapi juga proses pengolahan hingga aspek perizinan penyedia makanan.

“Besok kami panggil Dinas Kesehatan dan Dinas Perizinan. Jika nanti hasil pemeriksaan memastikan kejadian ini disebabkan oleh makanan dari program Makan Bergizi Gratis (MBG), tentu akan segera kami tindak lanjuti,” tegas Subandi.

“Kami akan melihat bagaimana proses kelayakan makanannya. Mulai pengolahan seperti apa, termasuk izin-izinnya. Semua akan kami cek dan tindak lanjuti bersama dinas terkait,” lanjutnya.

Di tengah kepanikan akibat banyaknya santri yang harus mendapatkan penanganan medis, Bupati Subandi meminta para wali santri tidak terpengaruh informasi yang belum terverifikasi.

Ia memastikan pemerintah daerah bersama rumah sakit dan instansi terkait terus memantau kondisi para santri.

“Saya mengimbau para wali santri semuanya, tidak usah ada kekhawatiran. Kami sebagai pimpinan daerah sudah memaksimalkan penanganan. Insya Allah semua santri akan sembuh,” ujarnya. (Tom)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup