3.849 Kasus TBC Ditemukan di Sidoarjo, 656 Kader Diperkuat untuk Putus Rantai Penularan
SIDOARJO, antaratoday.com – Sebanyak 3.849 kasus Tuberkulosis (TBC) telah ditemukan di Kabupaten Sidoarjo hingga 25 September 2026. Dari jumlah tersebut, sebanyak 3.484 pasien atau 90,5 persen telah mendapatkan pengobatan.
Angka tersebut menjadi salah satu dasar Pemerintah Kabupaten Sidoarjo memperkuat penemuan kasus, pelacakan kontak, pengobatan hingga pendampingan pasien. Penguatan dilakukan sampai tingkat desa dan kelurahan melalui Deklarasi Desa dan Kelurahan Siaga Tuberkulosis di Pendopo Delta Wibawa, Selasa (29/9/2026).
Deklarasi tersebut dihadiri Wakil Menteri Kesehatan RI dr Benjamin Paulus Octavianus dan Wakil Menteri Dalam Negeri Akhmad Wiyagus. Keduanya juga meninjau pelayanan kesehatan di RSUD R.T. Notopuro Sidoarjo serta Balai Pelayanan Sosial PMKS Jalanan Dinas Sosial Pemerintah Provinsi Jawa Timur.
Wakil Bupati Sidoarjo Mimik Idayana mengatakan penanggulangan TBC tidak dapat hanya mengandalkan tenaga kesehatan. Pemerintah desa dan kelurahan, kader, keluarga, dunia usaha hingga masyarakat harus terlibat dalam menemukan kasus dan mencegah penularan.
“Penanggulangan TBC bukan hanya urusan tenaga kesehatan. Ini urusan kita bersama. Karena itu, penanggulangannya juga harus dilakukan bersama,” kata Mimik.
Menurutnya, terdapat tiga hal yang harus diperkuat. Pertama, penemuan kasus sekaligus memastikan pasien menyelesaikan pengobatan. Kedua, memutus rantai penularan mulai dari keluarga dan lingkungan terdekat. Ketiga, memperkuat kolaborasi lintas sektor.
Untuk mempercepat penemuan kasus, skrining dan pelacakan kontak serumah diperluas ke sejumlah lokasi berisiko, seperti fasilitas kesehatan, pondok pesantren, tempat kerja dan permukiman padat.
Terapi Pencegahan Tuberkulosis (TPT) juga menjadi bagian yang masih perlu diperkuat. Wamendagri Akhmad Wiyagus sebelumnya mendorong Sidoarjo mempercepat pemberian TPT dengan didukung penemuan kasus, pelacakan kontak erat dan integrasi data.
Dukungan sarana juga ditambah. Kabupaten Sidoarjo mendapatkan tiga unit X-ray portabel sehingga total perangkat yang tersedia menjadi empat unit.
Peralatan tersebut dapat dimanfaatkan untuk mendukung skrining dan mempercepat penemuan kasus TBC. Kemenkes sendiri tengah memperluas penggunaan X-ray portabel untuk skrining aktif di masyarakat, termasuk lingkungan pesantren dan permukiman padat.
Selain alat, sebanyak 656 kader akan mendapatkan dukungan honor sebesar Rp500 ribu per kader setiap bulan.
Wamenkes Benjamin mengatakan kader memiliki posisi penting karena bekerja langsung di tengah masyarakat. Mereka membantu menemukan kasus, melakukan pelacakan kontak serta mendampingi masyarakat.
“Peran kader sangat penting karena mereka berada dekat dengan masyarakat. Para kader membantu penemuan kasus, pelacakan kontak, serta pendampingan masyarakat,” ujar Benjamin.
Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sidoarjo Lakhsmie Herawati Yuwantina mengatakan penguatan program TBC akan terus dilakukan melalui penemuan aktif, keterhubungan layanan dan pemberdayaan masyarakat.
Rumah sakit, klinik, puskesmas dan fasilitas pelayanan kesehatan lainnya didorong memastikan setiap kasus yang ditemukan segera memperoleh pengobatan dan pemantauan hingga tuntas.
Langkah tersebut sejalan dengan strategi nasional penanggulangan TBC yang menempatkan pelacakan kontak erat dan penemuan kasus secara aktif sebagai bagian penting untuk mempercepat eliminasi TBC.(Tom)





























