Kali Wrati Menghitam dan Bau Busuk, Warga Beji Ancam Demo dan Tagih Janji Pemerintah

PASURUAN, antaratoday.com – Bau busuk menyengat disertai perubahan warna air menjadi hitam pekat di Kali Wrati, Desa Kedungringin, Kecamatan Beji, Kabupaten Pasuruan, memicu amarah warga setempat. Lantaran diduga kuat tercemar limbah industri, warga mengancam akan menggelar aksi demonstrasi besar-besaran jika pemerintah terus menutup mata.

Kondisi memprihatinkan ini dilaporkan sudah berlangsung selama satu bulan terakhir. Warga mengaku intensitas bau busuk semakin menjadi-jadi saat malam hari, hingga mengganggu waktu istirahat dan aktivitas harian mereka.

“Baunya sudah sekitar sebulan dan terjadi setiap hari. Apalagi kalau malam hari, baunya tambah menyengat,” keluh seorang ibu rumah tangga di Dusun Balongrejo, Selasa (27/10/2026).

Ia menambahkan, warga mencurigai aroma tak sedap tersebut berasal dari pembuangan limbah perusahaan di wilayah Beji dan sekitarnya. “Selain bau, kalau kena air sungai sekarang malah bikin gatal-gatal. Jelas ini terkontaminasi limbah,” imbuhnya.

Keluhan senada juga disuarakan warga Dusun Balangbuntung. Mereka mendapati air sungai tidak hanya menghitam, tetapi terkadang berubah warna menjadi hitam kemerahan.

“Baunya nyengat sekali enak yang buang limbah, di sini warga Balangbuntung yang malah kena getahnya. Selain bau, airnya juga hitam kemerahan dan bikin kulit gatal,” cetus salah satu warga setempat yang enggan disebutkan namanya.

Akibat dampak lingkungan yang kian merugikan kesehatan ini, kekecewaan warga mulai berada di titik nadir. Mereka kini bersiap turun ke jalan.

“Sudah demo saja. Mau sampai kapan kita dipaksa menghirup bau busuk dan memakai air gatal gara-gara ulah perusahaan” tegasnya.

Menanggapi gejolak di masyarakat, Ketua Forum DAS Wrati, Henry Sulfianto yang akrab disapa Londo, menilai kemarahan warga merupakan kulminasi dari rasa frustrasi akibat diabaikan oleh otoritas terkait. Bagi Londo, sengkarut Kali Wrati adalah cermin nyata bagaimana masyarakat lingkar industri menjadi korban tanpa adanya solusi konkret.

Londo mengungkapkan, Forum DAS Wrati sebenarnya telah melayangkan surat resmi ke Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS). Upaya persuasif pun sudah ditempuh melalui jalur birokrasi.

“Audiensi dengan Pemkab Pasuruan dan BBWS di Surabaya juga sudah kami lakukan. Namun, responsnya selalu sama, hanya jawaban normatif akan segera kami tindaklanjuti. Nyatanya, sampai warga mengeluh begini, belum ada kejelasan sama sekali,” tutur Londo sembari mengacungkan tangan dengan tegas. (por/mal/red)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup