Tak Hanya Pulihkan Fisik, Pemkab Sidoarjo Dampingi 59 Santri Korban Dugaan Keracunan MBG

SIDOARJO,antaratoday.com – Penanganan dugaan keracunan massal menu Makan Bergizi Gratis (MBG) di Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Tanggulangin, Sidoarjo, tidak berhenti pada penanganan medis. Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Sidoarjo mulai menyasar kondisi psikologis para santri yang terdampak.

Kamis (3/9/2026), Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Sidoarjo bersama Tim Kesehatan Jiwa (Keswa) Puskesmas Tanggulangin dan Tim Puskesmas Jabon melakukan rapid asesmen serta pendampingan kesehatan jiwa terhadap 59 santri.

Langkah tersebut dilakukan untuk mendeteksi sejak dini kemungkinan munculnya gangguan psikologis setelah para santri mengalami insiden yang membuat ratusan rekannya harus mendapatkan perawatan di sejumlah rumah sakit.

Kepala Dinkes Sidoarjo dr Lakhsmie Herawati Yuwantina, MKes mengatakan, rapid asesmen diperlukan untuk memetakan kondisi psikologis para santri sekaligus menentukan bentuk pendampingan yang dibutuhkan.

“Kami ingin memastikan kesehatan jiwa para santri juga mendapatkan perhatian. Melalui rapid asesmen ini, kami mendeteksi awal untuk mendampingi mereka apabila ada santri yang membutuhkan dukungan lebih lanjut,” ujar Lakhsmie.

Menurutnya, kondisi psikologis korban setelah mengalami kejadian yang mengejutkan tidak boleh diabaikan. Karena itu, asesmen dilakukan secara humanis dengan memberikan ruang kepada para santri untuk menceritakan apa yang mereka rasakan setelah insiden tersebut.

“Kami tidak hanya melihat kondisi fisiknya, tetapi juga psikologisnya. Anak-anak perlu mendapatkan rasa aman dan dukungan setelah mengalami situasi seperti ini,” katanya.

Apabila dari hasil asesmen ditemukan santri yang membutuhkan penanganan lanjutan, Dinkes akan memberikan pendampingan sesuai kondisi masing-masing.

Pendampingan tidak hanya dilakukan di lingkungan Pondok Pesantren Manba’ul Hikam, Desa Putat, Kecamatan Tanggulangin.

Tim kesehatan juga mendatangi lokasi di Desa Balongdowo, Kecamatan Candi. Sebab, sebagian santri yang bersekolah di Manba’ul Hikam Putat tinggal di pondok yang berada di Balongdowo.

“Jadi, kami memberikan pendampingan di kedua tempat itu agar asesmen dan perhatian terhadap kondisi kesehatan jiwa santri dapat dilakukan secara menyeluruh,” jelas Lakhsmie.

Pola penanganan tersebut menunjukkan bahwa respons pemerintah mulai diarahkan tidak hanya pada fase kegawatdaruratan medis, tetapi juga pada proses pemulihan setelah kejadian.

Dugaan keracunan terjadi setelah para santri mengonsumsi menu MBG yang disalurkan Satuan Pelayanan Pemenuhan Gizi (SPPG) Kalitengah, Tanggulangin, pada Selasa (1/9/2026).

Sejumlah santri kemudian mengalami keluhan seperti mual, muntah, pusing, sakit perut hingga lemas dan harus dievakuasi ke fasilitas kesehatan.

Jumlah korban dalam perkembangan kasus tersebut terus berubah seiring pendataan dan penanganan medis. Pada 2 September, sejumlah laporan menyebut sedikitnya 431 santri telah mendapatkan penanganan medis. Perkembangan berikutnya menunjukkan jumlah korban yang dilaporkan terdampak meningkat menjadi lebih dari 500 orang.

Menu yang dikonsumsi para santri antara lain nasi putih, telur orak-arik, tempe bumbu Bali, tumis buncis baby corn, dan buah apel.

Kasus tersebut kini masih dalam penyelidikan untuk memastikan penyebab pasti munculnya gejala keracunan. Badan Gizi Nasional (BGN) juga telah menghentikan sementara operasional SPPG Kalitengah selama 30 hari sebagai bagian dari penanganan dan investigasi.

Gubernur Jawa Timur Khofifah Indar Parawansa pada Kamis (3/9/2026) juga menyoroti dugaan keterlambatan penyajian makanan kepada para santri sebagai salah satu temuan yang perlu diperiksa dalam penyelidikan. Namun, penyebab pasti insiden masih menunggu hasil pemeriksaan dan investigasi lebih lanjut.

Di tengah proses tersebut, Pemkab Sidoarjo memilih memperluas respons dengan memastikan aspek psikologis korban turut mendapatkan perhatian.

Lakhsmie menegaskan pendampingan kesehatan jiwa menjadi bagian dari upaya pemulihan agar para santri dapat kembali menjalani kegiatan belajar dan aktivitas keagamaan tanpa dibayangi rasa takut atau kecemasan berlebihan.

“Jika dari hasil asesmen ditemukan santri yang membutuhkan perhatian lebih lanjut, tentu akan dilakukan penanganan sesuai kebutuhannya,” pungkasnya.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tutup